Latest News

Perjalanan Tempe Di Luar Negri

Jika berbicara tempe, artinya kita berbicara mengenai salah satu makanan khas dari Indonesia dan saya juga teringat dengan salah satu kalimat dari Bung Karno "Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.".

Yang dimaksud Pak Soekarno mental tempe adalah mental lemah, langsung hancur sekali injak, tapi jaman sekarang tempe bukan makanan sembarangan, memang tempe dijual murah di Indonesia (semoga tetap murah) jika diluar negri tempe menjadi barang mahal, harganya berkali-kali lipat.

Dari Swiss Ke Perancis
 
Sebut saja nama Ana Larderet, dia mengenal tempe ketika masih berkuliah selama satu tahun di universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selepas berkuliah, pada tahun 2011 dia merindukan rasa tempe, beruntung dia mempunyai sahabat bernama Rustono di jepang yang memproduksi tempe, Rustono juga yang mengajarkan bagaimana cara membuat tempe.

Sembari berkuliah S2 Swiss Ana juga mempromosikan tempe kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia di sana, namun rupanya bukan hanya mahasiswa Indonesia yang memesan tempe buatan Ana, tempenya juga mendapat tempat di mahasiswa swiss, walaupun memerlukan waktu untuk mengenalkannya.

Tentu saja cerita Ana diatas tidak semudah kedengarannya, Ana sebelumnya juga pernah berkali-kali gagal dalam pembuatan tempe, tempenya sering busuk pada saat pertama kali membuatnya, sebab dia juga belajar dari Nol.

Begitu selesai kuliah di Swiss Ana kemudian melanjutkan bisnis tempenya di perancis, sambil mengurusi perijinan Ana terus memasarkan tempe buatannya, terbukti tempe buatannya disukai konsumen, tempe dijual disana dengan kisaran harga 4-8 euro (1 euro sekitar Rp. 15.000).

Jepang

Pada tulisan di atas disebutkan nama Rustono, guru tempe Ana yang berdiam di Jepang. Rustono memulai usahanya pada tahun 1998. Perjuangan Rustono tidak mudah, beberapa bulan dia gagal dalam pembuatan tempe dikarenakan perbedaan suhu dan kelembapan udara. Rustono belajar kepada sekitar 60 pengrajin tempe di Indonesia, kemudian dengan memasukkan teknologi dia berhasil membuat tempe dijepang dengan cara mempertahankan suhu ruangan diatas 30 derajat celcius, jadi walaupun musim salju produksi tempe Rustono tetap berjalan.

Rusto's Tempe mulai menyebar pada saat salah satu wartawan jepang mewawancarainya, walaupun selama beberapa bulan kurang berhasil memperkenalkan tempe kepada restoran jepang dikarenakan tempe makanan asing disana. Setelah wawancara tersebut dan tampil satu halaman, restoran yang pada mulanya menolak Rusto's Tempe mulain memesan tempenya.

Selain di restoran jepang Rusto's Tempe juga menyebar ke negara lain seperti Meksiko, Korea, Brasil, Polandia, dan Hongaria. Tempe buatannya juga dipakai dalam menu penerbangan maskapai Garuda Indonesia rute Osaka-Denpasar.

Harga tempenya ? 350 yen atau Rp 40.000 per 250 gram.

Australia

Di Australia ada dua orang yang saya ketahui, yang pertama adalah Amita Buissink, Ia bahkan memproklamirkan diri sebagai duta tempe, selain memproduksi tempe ia juga mengajarkan ilmu fermentasi tempe kepada  anak-anak sekolah. Dia juga pernah menjadi pembicara mengenai makanan ini di bogor.

Untuk ragi Amita mengimpor dari Indonesia setiap 2 hari sekali, selain menggunakan kedelai, Amita juga menggunakan bahan lainnya untuk pembuatannya, seperti beras merah, biji bunga matahari, kacang hijau, dan kacang hitam.

Yang kedua adalah Sinta Santoso beserta suami dan 3 pekerjanya, beliau memulai usahanya pada tahun 2005. Produk tempe buatan ibu Sinta adalah Prima Soya, uniknya dari tempe yang satu ini adalah memiliki varian rasa, contohnya rasa pedas, asam manis ala Meksiko, tempe bacem, dan lainnya. Harga tempe yang dijual Sinta adalah sekitar 6 Dolar Australia atau kurang lebih 60 ribu rupiah/bungkus.

Penutup, tempe di Indonesia memang dianggap makanan lokal yang biasa-biasa saja, namun ternyata di luar negri menjadi barang mahal di karenakan proses pembuatannya yang menggunakan teknologi untuk menyesuaikan suhu fermentasi, yang kedua membuatnya mahal adalah tempe masih menjadi makanan langka diluar sana, jadi ketimbang mencintai produk luar negri, ternyata memang lebih mencintai produk lokal sendiri

sumber :
travel.kompas
radioautralia 

0 Response to "Perjalanan Tempe Di Luar Negri"

Terima Kasih sudah berkunjung di blog catatansimpel.com

Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan
Jangan lupa berkunjung lagi :)