Latest News

Kaum Sofis Jejak Golongan Anti Ilmu

Kawan-kawan semua pernah dengar tentang kaum sofis ? atau mungkin sofisme ?. Berdasarkan wikipedia :

Sofisme suatu sikap yang berpendapat bahwa kebenaran itu relatif adanya. Disebut demikian karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung.

Berikut ini tulisan yang saya ambil dari buku "Inilah wasiat nabi bagi para penuntut ilmu" karangan Dr.Wendi Zarman mengenai kaum sofis, alasan saya menyebarkan tulisan ini karena menurut saya sudah banyak orang yang bersikap seperti kaum sofis ini, terutama dimedia sosial.

Dua ribu lima ratus tahun yang lalu, terdapatlah sekelompok orang cerdas Yunani. Mereka biasa dipanggil kaum Sofis (Sophist), yang dalam bahasa Yunani berarti "orang-orang bijaksana". Mereka adalah orang-orang terkenal pada masa itu. Mungkin ketenaran mereka dapat kita bandingkan dengan para artis atau selebriti di zaman sekarang. Di antara mereka terdapat nama-nama filsuf ternama masa itu, seperti Heraclius, Protagoras, Gorgias, Hippias, dan Prodicus.

Kemasyhuran kaum Sofis sebenarnya ditunjang oleh kegemaran orang-orang Yunani membicarakan dan memperdebatkan berbagai hal. Hal ini terutama dilakukan oleh para bangsawan dan kaum elit Athena yang sering berdebat dalam sidang dewan mahkamah Athena. Jika mereka memenangkan perdebatan, maka hal itu kan menaikkan gengsi mereka di mata masyarakat.

Nah, kaum sofis ini dikenal sebagai orang-orang yang sangat mahir berpidato dan berdebat. Mereka mengembangkan teknik-teknik tertentu untuk menaklukkan lawan bicara (retorika). Kemahiran tersebut kemudian mereka manfaatkan untuk mengajar filsafat dan retorika kepada para elit Athena yang berhasrat memenangkan perdebatan. Mereka memasang tarif untuk jasa tersebut. Oleh karena itu, tidak seperti filsuf pada umumnya yang hidup sederhana, kaum Sofis adalah kumpulan filsuf yang hidup dalam kemewahan dan kemakmuran.

Tidak seperti zaman sekarang, masa itu jarang sekali ditemukan filsuf yang mengajar demi menapat imbalan. Mengajar bagi mereka bukanlah sebuah profesi yang menghasilkan uang, tetapi merupakan kerja sosial untuk mewariskan ilmu kepada orang lain. Makanya plato dan gurunya, Socrates, mengecam keras profesi kaum Sofis ini, karena menurut kedua filsif besar ini mengajar untuk mendapatkan imbalan uang merupakan perbuatan bermoral rendah.

Kaum Sofis tidak hanya mengajar seni berpidato dan berdebat, tetapi juga menanamkan sifat munafik kepada murid-muridnya. Karena bagi mereka kebenaran itu hakikatnya tidak ada. Yang penting adalah bagaimana membuat orang yakin dengan apa yang dikatakannya. Oleh karena itu, salah satu metode yang mereka gunakan untuk melatih orang berpidato adalah menyuruh mereka berpidato tentang dua hal yang saling bertentangan. Misalnya, seorang murid disuruh berpidato yang membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Setelah itu, murid tersebut diminta berpidato untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika sang murid mampu melakukan kedua hal itu dengan meyakinkannya, maka mereka dinyatakan lulus. Jadi, di sini yang terpenting bukan argumentasi yang benar atau salah, tetapi bagaimana cara memenangkan perdebatan. Itu sebabnya, Sophism seringkali dikonotasikan sebagai argumentasi yang cerdas tetapi sebenarnya menyesatkan.

Meskipun pandai berdebat dan meyakinkan orang, kaum Sofis sesungguhnya adalah kumpulan orang-orang ragu atau skeptis terhadap segala hal. Menurut Protagoras, seorang guru besar kaum Sofis, tidak ada yang disebut dengan kebenaran mutlak. Yang ada hanyalah kebenaran subyektif, kebenaran orang per-orang, bukan kebenaran universal. Benar menurut A, belum tentu benar menurut B. Jadi, benar atau salah hanyalah soal pendapat. Sedangkan menurut Gorgias, pemuka kaum sofis lainnya, mengatakan tidak ada sesuatu pun yang wujud di dunia ini. Semua yang ada di dunia ini hanyalah ilusi belaka. Makanya kaum Sofis ini disebut golongan anti ilmu, karena menafikan kemungkinan manusia memperoleh ilmu.

Meskipun telah ribuan tahun berlalu tidak berarti ajaran Sofis mati. Pengikut paham Sofis ini justru semakin banyak kita temukan dimasa sekarang. Mereka tersebar dari berbagai profesi yang ciri utamanya adalah menjadikan retorika sebagai senjata seperti politisi, pengacara, wartawan, pejabat pemerintah, hingga pegiat LSM. Senjata utama mereka adalah kelihaian beradi pendapat yang dilakukan lewat ucapan, tulisan, atau gambar (visua). Jika perlu debat kusir berkepanjangan akan mereka layani sampai lawan mereka takluk.

Selama memberikan keuntungan, maka semua itu sah-sah saja bagi mereka. Bagi mereka tidak penting berkata benar, selama tujuan bisa diraih. Para politisi pandai bersilat lidah di sidang parlemen agar terlihat berpihak kepada kepentingan rakyat, padahal dia hanya ingin mengambil hati mereka agar terpilih lagi dalam pemilu. Para pengacara mencari-cari dalih agar kliennya yang salah dibebaskan dari tuntutan. Tujuannya bukan karena ingin membela kebenaran, melainkan karena dia dibayar mahal untuk membebaskan kliennya. Para wartawan memutar balik fakta agar beritanya laku. Pajabat pemerintah sibuk membesar-besarkan prestasinya dalam membangun agar rakyat tak gelisah karena pajak yang tinggi. Pegiat LSM sibuk protes dan berdemonstrasi ke sana sini demi mendapat suntikan dana dari negara asing. Semua ini adalah warisan kaum Sofis yang masih kita saksikan jejaknya di masyarakat.


Tambahan dari saya sendiri, perilaku kaum sofis yang kita lihat sekarang bukan hanya dipegang oleh profesi yang disebutkan oleh tulisan diatas, bahkan bisa jadi kita sendiri seperti itu, banyaknya forum-forum debat di internet membentuk perilaku sebagian orang menjadi ikut-ikutan menjadi bersikap layaknya kaum sofis walaupun ilmu yang dipegangnya hanya berdasarkan media internet, padahal alangkah lebih baiknya jika perdebatan sebaiknya dihindarkan, atau berprinsiplah 'diskusi/debat untuk mencari kebenaran bukan mencari pembenaran'.

1 Response to "Kaum Sofis Jejak Golongan Anti Ilmu"

  1. Cuy blog kam masih error kalau diakses tanpa WWW.

    Cek lagi settingannya kalopina ada yang kurang dicentang

    ReplyDelete

Terima Kasih sudah berkunjung di blog catatansimpel.com

Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan
Jangan lupa berkunjung lagi :)